A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Undefined variable $kategori_komuditas

    Filename: part/sidebar.php

    Line Number: 31

    Backtrace:

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/views/layout/part/sidebar.php
    Line: 31
    Function: _error_handler

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/views/layout/app.php
    Line: 171
    Function: view

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/libraries/Template.php
    Line: 15
    Function: view

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/controllers/Welcome.php
    Line: 102
    Function: load

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: foreach() argument must be of type array|object, null given

    Filename: part/sidebar.php

    Line Number: 31

    Backtrace:

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/views/layout/part/sidebar.php
    Line: 31
    Function: _error_handler

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/views/layout/app.php
    Line: 171
    Function: view

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/libraries/Template.php
    Line: 15
    Function: view

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/application/controllers/Welcome.php
    Line: 102
    Function: load

    File: /home/ghandiva/desaexport.id/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

  • Shopping
  • Track Product

Your Cart

Free shipping for orders under 10km

Kata Cari : umum


Admin Nov 26, 2025

Strategi Gesid Jatim Bawa Produk UMKM ke Pasar Global, Fokus Pasar Brazil

Dengan semangat memperluas jangkauan pasar, Generasi Emas Indonesia (Gesid) Jawa Timur (Jatim) menggelar Misi Dagang Go Pasar Global di Malang Creative Centre, pada hari Senin (12/8/2024) malam.

Acara ini mengusung tema peluang ekspor UMKM Malang Raya ke pasar internasional, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting yang memberikan pandangan mendalam mengenai tantangan serta peluang ekspor bagi UMKM lokal.

Beberapa tokoh yang hadir sebagai narasumber antara lain Ahmad Fuad R (Anggota DPRD Kota Malang Raya dan Ketua Umum Gesid Malang Raya), Donny Tamtama (Kepala ITPC Sao Paulo, Brazil), serta Muhammad Damar (CEO Srayamall), dengan didampingi oleh co-founder Desa Export Jatim, Erling Elinda Yulianto.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi pelaku UMKM Malang Raya untuk menembus pasar internasional.

Dalam sambutannya, co-founder Desa Export Jatim, Erling Elinda Yulianto, menyampaikan bahwa kegiatan yang digelar oleh Gesid ini bukan sekadar misi dagang berbentuk seminar, melainkan merupakan upaya keberlanjutan untuk membawa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia menuju go export.

“Kami berupaya untuk selalu membina pelaku UMKM di tiap daerah, kabupaten, kota hingga desa dengan tujuan akhir go export,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Selasa (13/8/2024).

Ia menekankan pentingnya pembinaan yang berkesinambungan bagi UMKM di berbagai daerah, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga desa.

Dukungan dari pihak swasta juga menjadi sorotan dalam acara ini. Erling menyebut bahwa Seraya Mall, sebagai salah satu mitra strategis Gesid Jatim, menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan UMKM.

“Sebagai bentuk dukungan awal, Seraya Mall memberikan bantuan berupa tablet dan router untuk memfasilitasi kegiatan kepengurusan Gesid Jatim,” tutur Erling.

Menurut Erling, Seraya Mall akan terus mendukung Gesid dalam ranah pemberdayaan UMKM, termasuk melalui pemberian doorprize dan berbagai fasilitas pendukung program.

“Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, Gesid Jatim optimis bahwa UMKM Indonesia, khususnya Jawa Timur, dapat semakin berkembang dan mampu bersaing di pasar global melalui program-program inovatif dan berkelanjutan,” tukasnya.
“Saya menargetkan pemberdayaan dan pembukaan peluang ekspor baru di BUMDes Jatim,” tambah Erling.

Sementara itu, Donny Tamtama, Kepala ITPC Sao Paulo, Brazil, menyampaikan bahwa potensi ekspor produk UMKM Jawa Timur ke pasar Brazil masih sangat besar, meskipun terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh para eksportir.

“Beberapa tantangan utama produk Indonesia di Brazil antara lain kurangnya pengenalan produk, jarak yang relatif jauh, serta harga ekspor yang dinilai kurang kompetitif,” imbuh Donny.

Ia juga menyoroti regulasi impor dan pajak di Brazil yang cukup kompleks, serta karakter konsumen Brazil yang cenderung mengutamakan kualitas meskipun dengan harga lebih tinggi.

“Produk Indonesia belum dikenal luas di Brazil, dan proses regulasi impor di sana cukup menantang,” lanjutnya.

Meski demikian, Donny tetap optimis peluang UMKM Jatim untuk menembus pasar Brazil masih terbuka lebar.

“ITPC Sao Paulo telah menjalin kerja sama dengan sejumlah konsultan di Brazil untuk menemukan buyer atau importir potensial bagi produk Indonesia,” jelas Donny.

Ia juga menambahkan bahwa Brazil mulai mencari pemasok alternatif selain China, sehingga membuka peluang besar bagi Indonesia.

“Loyalitas konsumen Brazil serta dimulainya perundingan Indonesia–Mercosur Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) menjadi angin segar bagi ekspor produk Indonesia ke Amerika Latin,” tukasnya.

Lebih lanjut, Donny memaparkan kinerja ekspor Indonesia pada tahun 2023 yang mencapai USD 258,81 miliar, dengan ekspor non-migas sebesar USD 242,9 miliar.

“Data tersebut menunjukkan potensi besar ekspor Indonesia yang diharapkan terus meningkat seiring terbukanya pasar-pasar baru seperti Brazil,” ujarnya.

Donny berharap keberlanjutan strategi pemasaran produk Indonesia di Brazil dapat terus ditingkatkan.

“Dengan kerja keras dan strategi yang tepat, produk UMKM Jatim dapat bersaing dan diterima di pasar Brazil,” pungkasnya.

(R1F)

Admin Nov 15, 2025

Program Desa BISA Ekspor Siap Jadi Lokomotif Ekspor Indonesia

Jembrana, 9 September 2025 – Menteri Perdagangan Budi Santoso memimpin peluncuran Program Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (9/9). Mendag Busan menyebut Desa BISA Ekspor sebagai gerakan kolaboratif antara pemerintah dan swasta untuk menjadikan desa sebagai motor penggerak ekspor Indonesia.

Dengan menggali potensi produk unggulan lokal di desa, program ini diyakini mampu menghadirkan kesejahteraan nyata bagi masyarakat desa.

“Hari ini, kita bersinergi meluncurkan Program Desa BISA Ekspor. Keberhasilan ekspor tidak bisa dicapai sendirian, melainkan melalui kerja sama erat pemerintah, swasta, koperasi, dan masyarakat. Mari kita bersama-sama menjadikan desa sebagai motor penggerak ekspor Indonesia,” ujar Mendag Busan.

Mendag Busan menekankan bahwa Desa BISA Ekspor merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perdagangan, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Pertanian, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank, Astra, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Program Desa BISA Ekspor menyinergikan sejumlah inisiatif pemerintah yang telah berjalan, antara lain Program UMKM BISA Ekspor dari Kemendag, Program Desa Ekspor dari Kemendes PDT, Program Desa Organik dari Kementerian Pertanian, Program Desa Devisa dari LPEI, serta Program Desa Sejahtera Astra. Ke depan, Program Kampung Nelayan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) diharapkan dapat bergabung.

Hingga September 2025, pemerintah bersama mitra strategis telah memetakan 2.357 desa ke dalam dua klaster. Sebanyak 741 desa masuk Klaster 1 (siap ekspor), sementara 1.616 desa berada di Klaster 2 dan memerlukan pendampingan lanjutan.

“Sebanyak 741 desa terkategori siap ekspor dan sisanya desa yang perlu pembinaan lanjutan. Semua ini akan difasilitasi dengan pelatihan, klinik bisnis, hingga dukungan agregator dari BUMN dan sektor swasta,” terang Mendag Busan.

Untuk desa yang telah siap ekspor, Kemendag melakukan berbagai langkah promosi, seperti integrasi data eksportir dan agregator ke dalam platform INAEXPORT, fasilitasi business pitching, serta business matching antara eksportir desa dan calon pembeli luar negeri.

Sementara itu, desa yang masih memerlukan pendampingan akan mendapatkan penguatan ekosistem ekspor, meliputi peningkatan kualitas dan kuantitas produk, pengembangan SDM, perluasan akses pemasaran, dukungan pembiayaan, serta pendampingan sesuai kebutuhan desa.

Sebagai wujud dukungan, turut diluncurkan Logo Desa BISA Ekspor yang merupakan kombinasi TUNESA (Tunas Desa) dan ANYASA (Anyaman Desa). Logo ini melambangkan desa sebagai benih kekuatan ekonomi yang tumbuh melalui kolaborasi, digitalisasi, dan kemitraan lintas sektor.

Selain itu, diperkenalkan pula Dashboard Desa BISA Ekspor yang menyajikan data komoditas desa di seluruh Indonesia secara akurat dan transparan, sebagai panduan bagi agregator, pelaku usaha, pemerintah, dan pembina desa.

Turut hadir dalam acara ini antara lain Wamendes PDT Ahmad Riza Patria, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan, Irjen Kemendag Putu Jayan Danu Putra, serta jajaran pemerintah daerah dan mitra strategis lainnya.

Wamendes PDT Ahmad Riza Patria menyampaikan bahwa saat ini terdapat lebih dari 55.941 BUM Desa aktif dan lebih dari 80.000 KDMP yang mengelola berbagai unit usaha strategis.

“Hari ini, kita meluncurkan Desa BISA Ekspor, sebuah inisiatif kolaboratif yang telah memetakan lebih dari 2.300 desa binaan dengan klasifikasi desa siap ekspor dan desa yang masih memerlukan pendampingan,” ujar Ariza.

Perjanjian Kerja Sama Berdayakan Desa

Dalam momentum tersebut, turut ditandatangani Perjanjian Kerja Sama antara Kemendag, Kemendes PDT, dan LPEI terkait pemberdayaan desa dalam pengembangan ekspor nasional. Kerja sama ini mencakup pertukaran data, pemetaan dan klasterisasi desa ekspor, hingga penetapan desa percontohan.

Kerja sama ini juga mencakup empat pilar pendampingan, yaitu peningkatan sumber daya ekspor, promosi produk ke pasar global, perluasan akses pembiayaan, serta penguatan logistik, rantai pasok, dan digitalisasi.

Sukatmo Padmosukarso menjelaskan bahwa Desa BISA Ekspor merupakan pengembangan dari Program Desa Devisa yang digagas LPEI sejak 2019. Program Desa Devisa Kakao Jembrana bahkan telah menembus pasar Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Jepang, dan Australia.

“Melalui sinergi lintas kementerian dan mitra strategis, kami berkomitmen memastikan desa binaan mampu meningkatkan produksi sekaligus memperluas pasar global secara berkelanjutan,” jelas Sukatmo.

Pelepasan Ekspor Produk Desa Devisa

Peluncuran Program Desa BISA Ekspor juga ditandai dengan pelepasan ekspor simbolis, antara lain ekspor kakao fermentasi senilai Rp2,4 miliar ke Prancis, benih bandeng ke Filipina, serta produk hortikultura ke Singapura.

“Ini merupakan capaian awal yang membanggakan dan diharapkan terus meningkat di masa mendatang,” ujar Mendag Busan.

Pembina Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) Agung Widiastuti menegaskan bahwa keberhasilan ekspor kakao Jembrana tidak lepas dari peran Kemendag sebagai fasilitator, termasuk dukungan Atase Perdagangan RI.

“Capaian ini membuktikan bahwa sinergi koperasi lokal dan pemerintah mampu mengangkat potensi kakao Jembrana ke pasar internasional,” tutup Agung.

Admin Nov 15, 2025

Melalui Program Pembinaan Berorientasi Ekspor, Desa-Desa di Jawa Timur yang Siap Go Global, Inilah Beberapa Desa Binaan dan Produknya

Desa Berorientasi Ekspor di Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur tidak hanya terkenal dengan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga memiliki potensi besar dalam menghasilkan produk ekspor.

Hal ini didorong melalui Program Pembinaan Desa Berorientasi Ekspor yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur.

Desa Berorientasi Ekspor merupakan desa yang memiliki potensi produk unggulan untuk menembus pasar internasional atau siap go global.

Produk Unggulan Desa Berorientasi Ekspor

Produk yang dihasilkan berasal dari berbagai sektor, antara lain:

  • Kerajinan dan home décor
  • Perkebunan (kopi, kakao)
  • Pertanian (jagung)
  • Batik
  • Rempah-rempah

Keberadaan desa berorientasi ekspor sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memperkuat daya saing Jawa Timur di pasar global.

Peran Disperindag Provinsi Jawa Timur

  1. Mengidentifikasi potensi ekspor dari desa-desa di Provinsi Jawa Timur.
  2. Menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi IKM.
  3. Memfasilitasi sertifikasi dan legalitas ekspor.
  4. Membuka akses pasar internasional melalui business matching dan promosi dagang.

Peran tersebut menunjukkan komitmen Disperindag dalam mendorong produk unggulan desa agar mampu bersaing di pasar internasional.

Contoh Desa Binaan yang Siap Go Global

  • Desa Kasiman, Bojonegoro – Produk home décor
  • Desa Kakao, Mojokerto – Produk perkebunan kakao
  • Desa Gula Aren Temon, Pacitan – Produk gula aren
  • Desa Kerajinan Rotan, Domas, Gresik – Produk rotan

Keberhasilan desa-desa binaan tersebut menunjukkan bahwa dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, peran aktif pelaku IKM, komitmen pemerintah daerah, serta distribusi informasi yang tepat, desa dapat menghasilkan produk berskala ekspor.

Program ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam membina desa-desa lain agar berorientasi ekspor dan mampu menembus pasar internasional.

Admin Oct 31, 2025

Gesid Jatim-PPLI Bersinergi, Ciptakan Lapangan Kerja Baru untuk Pemuda Desa

Gesid Jatim dan PPLI Teken MoU, Dorong Program 1 Kecamatan 1 Ekspedisi

Generasi Emas Indonesia (Gesid) Jawa Timur (Jatim) menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia (PPLI) di Gedung ITCM, Sidoarjo.

Penandatanganan ini menjadi bagian dari komitmen Gesid dalam meningkatkan perekonomian daerah, khususnya di kalangan pemuda dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) melalui program inovatif “1 Kecamatan, 1 Ekspedisi”.

Plt. Ketua Umum BPW Gesid Jatim, Erling Elinda Yulianto, mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah pedesaan.

“Saya melihat pengusaha di desa-desa masih kurang familiar dengan sistem pengiriman barang. Melalui program ini, kami ingin memperkenalkan pentingnya layanan logistik bagi mereka,” ujar Erling dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Minggu (10/11/2024).

Erling mengungkapkan, kolaborasi antara Gesid Jatim dan PPLI akan memberikan akses pelatihan serta pembekalan bagi pengusaha dan pemuda desa yang tertarik mempelajari bisnis logistik.

“Kami telah menawarkan peluang bagi pelaku usaha yang sudah memiliki usaha di rumah untuk membuka usaha sampingan di bidang ekspedisi,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Erling menambahkan bahwa bagi masyarakat yang belum memiliki usaha namun ingin belajar bisnis logistik, dapat bergabung dengan Gesid Jatim dengan biaya yang terjangkau.

“BUMDES juga diharapkan dapat turut berperan dalam mendukung dan memfasilitasi kegiatan ini,” terang Erling.

Lebih lanjut, Erling menjelaskan bahwa kemitraan Gesid dan PPLI telah menyiapkan armada trucking serta sistem pendukung yang siap digunakan oleh anggota.

“Bagi yang bergabung melalui Gesid Jatim akan mendapatkan harga khusus. Hal ini sejalan dengan visi Gesid untuk mewujudkan desa yang mandiri secara ekonomi dan kreatif,” imbuh perempuan pengusaha muda asal Sidoarjo tersebut.

Melalui program ini, Erling berharap dapat terbangun sistem ekonomi yang berkelanjutan di Jawa Timur.

“Desa-desa diharapkan mampu berdikari dan mendukung perekonomian daerah melalui peningkatan kompetensi di bidang logistik dan ekspedisi,” pungkasnya.